Akad Tijarah

Akad menurut bahasa adalah ikatan,sedangkan secara syar’i adalah ikatan ijab (penyerahan) dan qobul (penerimaan) sesuai dengan ketentuan syara’ dan memberikan dampak sesuai dengan pembentukannya. Akad diklasifikasikan menurut tujuan dan keabsahannya. Menurut tujuannya akad dibedakan menjadi dua yaitu :1) Tijarah yang dimaksudkan untuk mencari dan mendapat keuntungan. Akad tijarah biasa digunakan dalam kegiatan jual beli. 2)Tabarru’ yang dimaksudkan untuk menolong dan semata-semata murni untuk mendapat pahala dan ridho dari Allah SWT, akad tabarru’ merupakan akad dalam memindahkan kepemilikan harta/dana seseorang kepada orang lain melalui cara hibah/derma/shadaqah.Dalam akad tabarru’ ini tidak disyaratkan adanya qobul dari penerima hibah. Namun cukup dengan ijab saja dari si pemberi, maka harta/dana yang di-tabarru’-kan telah berpindah kepemilikannya kepada penerima atau yang diakadkan.Ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa akad tabarru’ tidak bisa menjadi akad tijarah dan akad tijarah bisa menjadi akad tabarru’. Misalnya, seorang penumpang naik taksi dengan akad tijarah, tetapi setelah terjadi obrolan antara penumpang dan supir taksi mereka ternyata adalah tetangga dekat dari satu daerah asal sehingga si supir menggratiskan (tabarru’) ongkos taksi yang seharusnya dibayar oleh penumpang tersebut. Menurut keabsahannya akad dibedakan menjadi: 1) Sahih/Valid yaitu yang memenuhi rukun dan syarat, 2) Fasid/Voidable yaitu semua rukun terpenuhi tapi ada syarat ynag tidak terpenuhi, 3) Bathal/Void yaitu salah satu uuukun terpenuhi otomatis syarat tidak terpenuhi. Akad dari sisi pelaksanaanya dibedakan menjadi: 1)Akad Nafiz, yang lengkap rukun dan syarat sehingga dapat langsung dieksekusi. 2)Akad Mauwquf, yang lengkap rukun tapi ada syarat yang terganggu (ada hak orang lain pada objek). Dari sisi kekuatan: 1) Akad Lazim, akad dimana salah satu dari kedua belah pihak tidak memiliki hak fasakh tanpa persetujuan pihak lain. 2) Akad Ghyar Lazim, akad dimana salah satu dari kedua pihak boleh memiliki hak fasakh tanpa persetujuan pihak lain.1

Akad tijarah digunakan dalam transaksi yang sifatnya komersial/profit motif, sehingga boleh mengambil keuntungan. Contoh transaksi seperti ini adalah jual beli, sewa-menyewa, upah-mengupah kerjasama usaha atau bagi hasil.2 Akad tijarah terbagi lagi menjadi dua yaitu :1) Natural certainty contract yang terdiri dari bai’ ( jual beli ) dan ijarah. 2) Natural Uncertainty Contract yang terdiri dari musyarakah, muzara’ah (benih dari pemilik lahan), mukhabarah (benih dari penggarap) dan musaqah (tanaman tahunan). Prinsip jual beli dalam akad tijarah adalah 1) Cara pengambilan keuntungan ada  empat yaitu: musawwamah dimana penjual tidak memberitahukan harga pokok dan keuntungan yang didapatkannya, murabahah yang merupakan kebalikan dari musawwamah, muwadhaah yaitu dengan prinsip diskon, tauli’ah yaitu dengan pemberian komisi kepada pembeli. 2) Jenis barang pengganti yaitu: muqayyadah yaitu kewenangan terbatas atas pembeli untuk menentukan jenis barang pengganti, mutlaqah yaitu kewenangan penuh atas pembeli untuk menentukan jenis barang pengganti,yang terakhir adalah sharf. 3) Cara pembayaran/waktu penyerahan yaitu naqdan dan ghoiru naqdan.Untuk ghairu naqdan ada tiga yaitu muajjal dimana barang diserahkan secara bertahap, salam dimana uang dibayarkan lebih dahulu baru kemudian barang diserahkan, istishna dimana uang dibayar lebih dahulu secara bertahap baru kemudian barang diserahkan.3

Akad tijarah yang berlandaskan fee based (berdasarkan biaya) adalah seperti pada fee based income dalam dunia perbankan. Salah satu sumber pendapatan semacam ini dalam dunia perbankan adalah cash management. Cash management dapat diartikan sebagai mengelola orang dan dana nasabah dengan seefisien dan seefektif mungkin. Cash management pada hakikatnya merupakan diferensiasi produk yang bertujuan untuk mengurang waktu penyerahan atau waktu kerja yang diperlukan.4Jasa Cash Management mencakup penanganan pembayaran dan penerimaan valuta asing,pelaksanaan pembelian atau penjualan sekuritas atau bertindak sebagai kustodi, aktivitas dana (account structure),sebagai sarana penagihan (collection), sarana investasi dan sarana pembiayaan jangka pendek.Setiap jasa yang diberikan bank dari Cash Management selalu ada fee atau biaya yang kemudian disebut dengan fee based income. Begitu juga dengan fee based pada akad tijarah, ketika pihak penjual menawarkan atau  memberikan jasa kepada pembeli akan ada fee atau biaya yang dipungut penjual sebagai imbal balik atas jasa tersebut. Jasa-jasa  yang ditawarkan itu adalah yang tidak tercantum dalam akad misalnya, jasa pengantaran barang sampai ke rumah pembeli,jasa penitipan barang untuk kurun waktu tertentu. Jasa-jasa tersebut akan menimbulkan akad lagi.Untuk jasa penitipan barang akad yang digunakan adalah wadi’ah yad al-amanah, dimana pihak yang dititipi barang tidak berhak menggunakan atau memakai barang titipan tersebut dan barang titipan harus ada setiap saat pemilik ingin mengambilnya. Pihak yang dititipi barang tidak berhak atas kerusakan atau hal-hal buruk yang terjadi pada barang titipan itu.

Diolah dari berbagai sumber

Oleh Sulistyoningsih (Staf of Internal Affairs)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: